Modal Kultural Islam Moderat Kudus Dalam Diplomasi Soft Power Nahdlatul Ulama Kabupaten Kudus
Keywords:
Asia Tenggara, Diplomasi keagamaan, Kudus, Nahdlatul Ulama, Soft powerAbstract
Kudus memiliki modal kultural Islam moderat yang tercermin dalam narasi toleransi Sunan Kudus, akulturasi Menara Kudus, tradisi pesantren, dan etos Gusjigang. Artikel ini menganalisis bagaimana modal tersebut dapat ditempatkan dalam diplomasi soft power Nahdlatul Ulama (NU) di Asia Tenggara. Penelitian menggunakan studi pustaka kualitatif dengan analisis tematik. Kerangka Joseph S. Nye digunakan untuk memetakan sumber daya budaya, nilai politik, dan kredibilitas kebijakan, sedangkan faith-based diplomacy dan track-two diplomacy menjelaskan peran NU sebagai aktor keagamaan non-negara. Hasil telaah menunjukkan tiga pola diplomasi NU: penyebaran nilai dan wacana, pendidikan dan jejaring keulamaan, serta kemanusiaan dan perdamaian. ASEAN IIDC 2023 dan penjajakan kerja sama PBNU–delegasi Thailand 2025 memberi bukti terverifikasi tentang dialog antaragama dan pertukaran pengetahuan; klaim kegiatan lain masih memerlukan sumber primer. Modal Kudus relevan sebagai narasi lokal bagi diplomasi tersebut, tetapi belum terdapat bukti bahwa ia telah dioperasionalkan secara langsung dalam program regional NU. Pemerintah Kabupaten Kudus dapat berperan melalui dokumentasi berbasis bukti, konsorsium pesantren, pertukaran akademik, dan wisata religi yang tidak mengkomodifikasi toleransi.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Jurnal Ekspos

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


